Henricus Kusbiantoro: Melayani Lewat Desain

February 22, 2010

Curiosity about life in all of its aspects, I think, is still the secret of great creative people. —Leo Burnett

Saya memangilnya Icus. Mulai dari waktu ia magang di LeBoYe, saat masih kuliah di ITB. Diusianya yang masih muda semua bisa melihat Icus adalah seorang yang penuh dengan curiosity, sangat kritis dan semangatnya yang luar biasa ! Kepribadiannya yang sangat lugas, ceria & helpful. Icus siap membantu siapa saja, sehingga membuat ia juga menjadi sangat disukai oleh teman-teman dikantornya. Kecintaannya terhadap design & kerja kerasnya tidak perlu dipertanyakan lagi ! Perjalanan karirnya dari Pushpin Studio, Chermayeff & Geismar, Wolff Olins dan sekarang Landor sangat luarbiasa. Ia juga selalu bersyukur kepada Pencipta, bersikap positif dan hidup yang penuh misteri justru menantangnya untuk terus berkarya. Menjadi bagian yang kecil dalam perjalanan karirmu, kita semua ikut bangga dengan prestasi, inspirasi & pelayanan yang diberikan untuk komunitas desain grafis di Indonesia.

MELAYANI LEWAT DESAIN

JUMAT, 19 FEBRUARI 2010 | MEDIA INDONESIA | Sica Harum

Perjalanan karya internasional desainer Henricus Kusbiantoro hanya bisa dijelaskan dengan satu kata, cinta.

LOGO Supremasi Sepak Bola Amerika Super Bowl 2011 baru saja dibuat. Desainer Henricus Kusbiantoro, Senior Art Director Landor Associates di San Fransisco, Amerika Serikat, termasuk salah satu yang sibuk. Sejak bergabung dengan Landor, portofolio internasional berderet di curriculum vitae Henri. Namanya semakin kukuh sebagai desainer merek.

Tahun 2007 masih diingat lelaki yang akrab dengan panggilan Mas Icus di komunitas desain grafis Tanah Air itu sebagai momen gemilang. Saat itu, ia menjadi desainer grafi s Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional berpengaruh, D&AD London Merit Award. Karya Henri saat itu adalah desain merek kampanye global US Red Campaign for AIDS in Africa yang diinisiasi pemusik Bono dari band U2. Kampanye itu sendiri diresmikan di World Economic Forum, Davos, Swiss, pada 2006.

Cinta logo
Sejak kecil, Henri senang menggambar. Dia menggemari ilustrasi pada buku-buku legenda Indonesia. Koleksi buku wayangnya segudang. Saking banyaknya, Henri kecil berbisnis sewa buku. Yang menjadi pelanggan, temanteman SD-nya. “Saya punya serial Wali Sanga lengkap,” kisahnya melalui surat elektronik, Rabu(17/2).

Saat menginjak masa remaja di SMA Aloysius, Bandung, Henri sempat merancang logo bagi tim sepak bola sekolahnya–kelak, ia juga terlibat dalam desain merek organisasi sepak bola internasional FIFA. Pada masa remaja, Henri terpana melihat logo Garuda Indonesia. “Satu hal yang saya ingat, pada 1980-an, konon ada biro desain grafi s terkenal bernama Landor yang berhasil mendesain logo Garuda Indonesia. Saya ingat, saat itu saya ingin menjadi desainer,” kisah Henri.

Ketika itu, Henri tidak mengenal istilah desain logo ataupun desain grafis. Dia hanya bilang kepada orang tuanya, ingin menjadi desainer interior. Setelah lulus SMA, Henri sempat mengenyam pendidikan dasar desain di Universitas Trisakti, Jakarta, sebelum akhirnya memutuskan untuk menekuni desain grafi s di jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Pilihan itu sempat membuat ayahnya kecewa.

“Saya dilahirkan sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa yang besar dikeluarga pedagang,” ujarnya. Ayah Henri berasal dari Losari, sebuah desa di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Adapun ibunya lahir di Cirebon. Keduanya mementingkan perekonomian. “Madesu (masa depan suram),” ujar Henry menirukan kekhawatiran ayahnya.

Toh, akhirnya orang tua Henri bisa luluh juga. Mereka tahu sedari kecil Henri senang menggambar. Di ITB, Henri dibimbing Profesor AD Pirous dan perancang grafi s kawakan sekaligus kartunis Indonesia, Priyanto Sunarto.

Menuju New York
Setelah lulus kuliah pada 1997, Henri yang diganjar Ganesha Award lantaran menjadi mahasiswa seni rupa terbaik tidak sulit mendapat pekerjaan. Dia bergabung dengan studi desain grafis kondang, Leboye, Jakarta. Saat pecah kerusuhan Mei 1998, Henri beroleh beasiswa dari ASIA Help. Dia melanjutkan pendidikan desain grafi s di Pratt Institute, Brooklyn, New York, AS.

Dasar sudah cinta desain grafis, pendidikan jenjang pascasarjana itu ia lalap dengan cepat. Henri lulus pada 2000 dengan predikat highest achievement.

Bahkan sembari kuliah di Pratt Institute, ia masih sempat bekerja di Pushpin Studio yang didirikan desainer grafi s legendaris AS Seymor Chwast dan perancang logo I Love New York, Milton Glaser. “Waktu itu saya langsung di bawah arahan Seymour Chwast. Setiap pagi saya menyiapkan kopi, melayani kebutuhan fotokopi serta memilih warna yang sesuai pada tampilan komputer,” kenang Henri.

Dia mengerjakan tugas-tugas itu dengan antusias tanpa banyak tanya. “Waktu dan proses adalah satu hal yang indah dan tidak dapat dipaksakan,” ujarnya menganalisis pengalaman tersebut. Dalam pandangan Henry, banyak desainer di Indonesia bahkan di AS sekalipun yang ingin cepat melejit dan kurang memahami indahnya saat penantian. Padahal saat-saat itu, lanjut Henri, merupakan waktu yang berguna untuk menganalisis dan memahami cara kerja proses kreatif yang ada serta menikmati tugas. “Banyak kan yang tidak sabar. Padahal banyak biro dan rumah desain yang berkualitas di dunia memberikan tanggung jawab setahap demi tahap bagi desainer magang. Maksudnya agar mereka memahami waktu dan proses yang akan lebih mendewasakan desainer,” kata Henri yang kini juga mengajar di program master desain grafis di Academy of Art University, San Francisco.

Menurut Henri, proses pendewasaan itu penting, baik secara keahlian ataupun mentalitas agar terhindar dari sikap superior. “Saat saya baru lulus, saya pernah merasa pendidikan di Seni Rupa ITB adalah yang terbaik. Ini menjadi bumerang. Karena ternyata pendidikan apakah dari Seni Rupa ITB ataupun Royal College of Arts, London, tidak akan ada artinya sama sekali bila tidak terjun ke dalam aplikasi,” kata Henri sungguh-sungguh.
Dia memegang prinsip, desainer ialah pelayan yang melayani kebutuhan orang lain, bukan dirinya sendiri.

Momen penting
Lepas dari Pushpin Studio, Henri mapan di Chermayeff & Geismar. Di sana ia sempat merancang beberapa logo penting, antara lain The Emmy Award, Japan Airlines, Guggenheim Foundation, dan Food Network Channel.
Pada 2002, Henri mengalami PHK lantaran keuangan perusahaan yang memburuk karena ia desainer junior termuda Dia punya waktu satu bulan untuk mencari pekerjaan baru.

Waktu terus berjalan hingga visa kerjanya hanya tersisa satu minggu. Henri pun berkemas. Dia siap angkat koper kembali ke Tanah Air. “Dalam pikiran saya, tidak mungkin ada perubahan berarti dalam waktu satu minggu. Lagi pula saya merasa punya cukup bekal ilmu kembali ke Indonesia.
Saat itu, saya cuma ingat Tuhan. Mungkin bagi manusia, semua pintu sudah tertutup dan harus memulai hal baru. Namun, bisa saja Tuhan bicara lain,” ujarnya serius.

Saat Henri tidur siang di apartemennya yang mini–hanya sekitar 15 meter persegi–di kawasan Brooklyn, New York, telepon berdering. Rupanya Direktur Kreatif Douglas Sellers dari konsultan merek bergengsi asal Inggris, Wolff Olins, sedang membuka kantor di New York. “Mereka mengajak saya bergabung sebagai desainer untuk proyek revitalisasi General Electric (GE) yang saat itu ingin menjadi perusahaan global,” cerita Henri.

Momen itu penting bagi Henri. Dua tahun setelah telepon itu berdering, dia terbang ke kantor pusat GE di Fairfi eld, Connecticut, untuk mempresentasikan eksplorasi logo GE.

Ketika itulah prinsip Henri, yakni melayani melalui desain, teruji. “Ratusan output logo GE saya perlihatkan di hadapan CEO Jeff Immelt di kantorpusat GE, Fairfi eld, Connecticut. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menggunakan logo mereka yang lama dan sudah dikenal unik. Itu keputusan tepat!” ujarnya.

Desainer logo, lanjut Henri, bukan sekadar melahirkan logo demi memuaskan ego rancangan. Namun, juga melihat peluang untuk membangkitkan merek yang terlupakan, dipandang remeh bahkan tersia-siakan. “Desainer logo hanya bertugas mempersiapkan simulasi logo untuk sebuah ‘kemungkinan persepsi bisnis yang baru’. Tentu saja output yang dihasilkan tidak selalu memaksakan penggantian.”

Proyek GE membuat Henri belajar banyak. Perancangan logo bagi klienklien multinasional dan berskala besar sangat mustahil dikerjakan dengan semangat kerja one man show, tapi kerja sama multidisiplin. “Keberhasilan merancang sebuah logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, hoki bahkan wangsit hingga fengsui. Namun, saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan,” tulis ayah satu putra ini menutup surat elektroniknya. (M-2)
ica@mediaindonesia.com

Advertisements

6 Responses to “Henricus Kusbiantoro: Melayani Lewat Desain”

  1. Lahandi Says:

    Yeah! Om Hendri termasuk salah satu desainer logo favorit saya.

  2. onny Says:

    waw…
    saya bener2 terinspirasi dari kisah hidupnya dan tentu saja karya karya beliau:)

  3. Hendra Says:

    Menarik sekali tulisan beliau. Membacanya seolah pengalaman beliau terpapar di mata saya 🙂 Bravo!

  4. David Says:

    Entah sudah brp kali dibaca tapi cerita ini tetap inspirational… 😀 saya bener2 nge-fans sama pak hermawan, leboye dan mas icus 😀 gudlak!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: