Idealisme Desainer Humanis

November 14, 2008

Concept cover 25 FIN

Concept graphic design magazine tells a profound story about Hermawan Tanzil and his years of experience in life and in design. From his childhood nostalgia, his view on art to his inspirations, the story is well-described by the writer.


Ignatius Hermawan Tanzil

Seni dan senstivitas adalah dua hal yang tak terpisahkan. Seorang seniman mengawali karyanya bersama kesensitivitasannya. Tanpa sensitivitas, ibarat seniman yang kehilangan inspirasi. Inilah kondisi yang melanda Hermawan Tanzil, desainer kondang yang tak bisa lepas dari seni.

Sejak duduk di bangku SMP St Aloysius, Bandung, seni sebetulnya sudah menjadi subjek yang mencuri perhatian sosok yang memiliki nama lengkap Ignatius Hermawan Tanzil. Hal ini tercium dari keaktifannya menjalani beragam kegiatan berbau seni. Mulai dari membentuk grup vokal, mendesain majalah sekolah dan menjadi fotografer. Bahkan kumpulan puisinya pernah memenangkan lomba puisi suatu majalah remaja tingkat nasional. Sesaat setelah mengenang masa sekolahnya, pendiri sekaligus Creative Director Leboye Design ini tanpa malu-malu mengakui kemampuannya yang rata-rata untuk pelajaran lain tapi justru selalu menonjol bila menyangkut mata pelajaran yang berhubungan dengan seni.

Situasi yang dihadapinya di rumah pun tidak jauh berbeda dengan di sekolah. Saat masih usia dini, pria kelahiran Bandung ini sudah akrab dengan aroma tinta, label-label cetakan produk tekstil dan seluk beluk desain lainnya. Tidak heran karena orangtuanya memang memiliki badan usaha yang bergerak di bidang percetakan. Dulu, di kala ada waktu senggang, ia tidak pernah melewatkan kesempatan bekerja di Dirgahayu – nama perusahaan percetakan keluarganya yang sampai sekarang masih produktif di Bandung. Alhasil, lingkungan sekolah yang memberikan semangat bagi para muridnya untuk berkarya seni didukung lingkungan usaha keluarga yang berhubungan dengan desain, seolah menjadi isyarat hendak kemana langkahnya beranjak … yaitu menjadi seorang desainer.

Hermawan memang tidak berkiprah sebagai seniman tapi sebagai desainer ia memandang tinggi makna seni. Seni tidak semata dianggap sebagai pendekatan yang diandalkannya pada karya desainnya. Lebih dari itu, seni dianggapnya mampu menggiring manusia menjadi individu yang lebih baik. Pemikiran ini salah satunya berangkat dari kegemarannya membaca karya sastra filosofis timur pada usia muda. Lao tzu yang karya kaligrafinya begitu indah atau Tao Te Ching serta Rabindranath Tagore yang yang menjadi sumber inspirasi yang luar biasa bagi design Hermawan mengantar desainer yang memiliki angan menjadi penulis ini memasuki kotak proses dimana ia merenungkan dua pemikiran itu hingga ia mampu mengenal karakter mereka masing-masing. Dalam proses itulah sensitivitas manusia juga turut terlibat dan belajar tentang sesuatu yang pada akhirnya menjadikan manusia itu mampu meresapi hal-hal yang baik.

concept25-bali-belles1

Desain yang Objektif
Sekian lama menggeluti desain, ini menekankan bahwa desain berujung pada objektivitas dengan syarat tidak bergantung pada selera pasar. “Sebagai desainer harus punya prinsip bahwa kita harus memberikan sesuatu yang baik untuk mereka (masyarakat), jangan memberikan sesuatu yang salah,” demikian alasannya.

Saat menyoroti dunia periklanan ataupun media televisi di Indonesia, terungkap kekecewaannya pada salah satu bagian industri kreatif Indonesia ini yang melulu mengacu pada pasar. Menurutnya bila kondisi ini terus berlanjut bukan tidak mungkin hanya akan membunuh kreativitas pekerja kreatif itu sendiri. Ayah dari dua orang anak ini juga mengungkapkan keprihatinannya akan ketiadaan idealisme di kalangan pekerja kreatif Indonesia untuk memberikan yang lebih baik. Padahal bila mereka mau mengajarkan dan memberikan sesuatu yang baik, bukan perkara mustahil untuk mencerdaskan masyarakat dan dirinya sendiri. Buah yang didapat pastinya juga akan semakin bagus. Dan inilah yang menjadi pondasi Hermawan dalam mendesain, yakni memberikan sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan manusia.

Menyinggung kegemarannya pada sesuatu yang “berantakan” seakan mendukung ungkapan peraih Type Director Club NewYork & Tokyo Award di tahun 2007 ini bahwa desain bisa saja imperfect dan tidak memiliki aturan main asal tidak membosankan. Selain itu, baginya desain bagaikan membuat script dimana personalitas dan karakter adalah hal yang penting; tidak cukup membuat cerita yang indah dan pesan yang bermakna, tapi karakter dari tokoh-tokohnya bisa jadi lebih penting dari cerita akhirnya sendiri. Sisi pemikiran semacam inilah yang menjadi perhatiannya selain aspek fungsional dari desain itu sendiri.

Mengaku eklektik, penggemar karya sastrawan Iwan Simatupang ini memandang desain bukan cuma sebatas fisik namun melibatkan proses emosional dalam dirinya. Meski begitu, Dosen Tidak Tetap jurusan DKV IKJ ini tetap memiliki gambaran umum mengenai karakteristik desainnya. Yakni cenderung kontras, padu-padan antara modern dan kuno serta penggunaan warna-warna yang lembut nan romantis

concept25-hermawan-tanzil-profil1

Hermawan Tanzil & Iseni
Sebelum membangun LeBoYe Design di tahun 1990, catatan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan di Amerika. Ia mengawali kariernya sebagai desainer grafis di Bohannan Eberts Design – biro desain dengan spesialisasi arsitektural grafis. Di sana ia banyak mendapatkan pelajaran berharga mengenai desain yang terkait arsitektur sampai ke hal yang detail seperti letter spacing. Lepas dari itu, kolektor label korek api lawas ini melangkah ke salah satu biro publishing Jacqualine Jones Design, dimana ia tidak hanya belajar bagaimana menciptakan desain untuk publishing dengan tipografi yang kuat, desain bersih dan elegan tapi juga belajar mengenai dunia profesional dan berkomunikasi dengan orang banyak. Pengetahuannya tentang desain sekaligus berbisnis kreatif kian terasah saat ia bekerja di Paul Curtin Design – sekarang bernama Eleven Inc. Selama berkarier disana, ia kerap mendapatkan kepercayaan penuh untuk mendesain ilustrasi, presentasi dihadapan klien hingga bertanggung jawab akan suatu projek

Pelajaran berharga yang diperolehnya itu membuatnya tidak canggung dalam mengelola LeBoYe Design. Namun dibalik bisnis desain yang ia rintis, lulusan desain grafis dari California College of the Arts, ini juga tidak serta merta membiarkan para klien yang menghampirinya buta akan desain. Ia pun tidak segan untuk berdiskusi dengan kliennya agar mereka juga belajar mengenai desain yang baik dan benar.

Kesenangannya untuk mengoleksi produk-produk yang berciri Indonesia juga mendorongnya untuk memproduksi artcraft sendiri dengan mengusung tema Indonesia. Label “Iseni” – menggantikan nama Leboye Creation, dipilihnya demi mempertahankan kekayaan budaya Indonesia melalui produk kreatifnya. Projek idealis ini bertujuan mulia, yaitu menghasilkan karya yang berbau lokal namun pantas dipandang pasar internasional. Membicarakan sosok Hermawan Tanzil memang seolah tak ada habisnya. Sepertinya sepak terjangnya pun tidak akan berhenti di sini. Mengapa? Karena dibalik usianya yang paruh baya, ia tidak akan pernah ragu sedikit pun untuk terus bereksplorasi dan mencari sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan personalitasnya. (Rina)

Advertisements

2 Responses to “Idealisme Desainer Humanis”

  1. oyepopoye Says:

    setuju..
    Seni dan senstivitas adalah dua hal yang tak terpisahkan,trus ber-eksplorasi dalam mencari hal yang baru,tapi tetap dengan stlye yang desainer miliki..
    go,indonesian design


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: